1. Observasi
Secara sederhana
observasi merupakan pengamatan terhadap realitas sosial. Ada pengamatan
langsung, ada juga pengamatan tak langsung. Seseorang disebut melakukan
pengamatan langsung bila ia menyaksikan sebuah peristiwa dengan mata kepalanya
sendiri.
Pengamatan ini
bisa dilakukan dalam waktu yang pendek dan panjang. Pendek artinya, setelah melihat sebuah peristiwa dan pencatat
seperlunya, seseorang meninggalkan tempat kejadian untu menulis laporan. Misalnya: peristiwa kecelakaan lalu lintas.
Sedangkan
panjang berarti seseorang berada di tempat kejadian dalam waktu yang lama.
Bahkan ia menulis laporan dari tempat kejadian. Contoh: peristiwa bencana alam.
Seseorang
disebut melakukan pengamatan tidak langsung bila ia tidak menyaksikan peristiwa
yang terjadi, melainkan mendapat keterangan dari orang lain yang menyaksikan
peristiwa itu.
Misalnya:
peristiwa penemuan mayat suami-istri di sebuah rumah. Si Bujang mendapat
informasi bahwa di jalan Melati No. 24 ditemukan mayat sepasang suami-istri. Ia
bergegas ke daerah itu. Sesampai di sana, ia masih melihat sepasang mayat
tersebut. Kalau ia kemudian mendapatkan data tentang siapa yang meninggal
dunia, kapan dan kenapa meninggal dunia, data itu merupakan hasil pengamatan
tidak langsung.
Apa beda
pengamatan penelitian (akademis) dgn pengamatan wartawan?
2. Wawancara
Wawancara yang
Baik: Agar tugas wawancara kita dapat
berhasil, maka hendaknya diperhatikan hal-hal - antara lain - sebagai berikut:
1.
Lakukanlah persiapan
sebelum melakukan wawancara. Persiapan
tersebut menyangkut alat (alat
tulis, rekam dll) dan bahan/materi outline
wawancara, penguasaan materi wawancara. Juga penting mengenal sifat/karakter/kebiasaan
orang yang hendak kita wawancarai, dan sebagainya.
2.
Taatilah peraturan dan
norma-norma yang berlaku di tempat pelaksanaan wawancara tersebut. Sopan
santun, jenis pakaian yang dikenakan, pengenalan terhadap norma/etika setempat,
adalah hal-hal yang juga perlu diperhatikan agar kita dapat beradaptasi dengan
lingkungan tempat pelaksanaan wawancara.
3.
Jangan mendebat nara
sumber. Tugas seorang pewawancara adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya
dari nara sumber, bukan berdiskusi. Jika Anda tidak setuju dengan pendapatnya,
biarkan saja. Jangan didebat. Kalaupun harus didebat, sampaikan dengan nada
bertanya, alias jangan terkesan membantah.
Contoh yang baik: "Tetapi apakah hal seperti itu tidak berbahaya bagi
pertumbuhan iklim demokrasi itu sendiri, Pak?"
Contoh yang lebih baik lagi: "Tetapi menurut Tuan X, hal seperti itu
kan berbahaya bagi pertumbuhan iklim demokrasi itu sendiri. Bagaimana pendapat
Bapak?"
Contoh yang tidak baik: "Tetapi hal itu kan dapat berbahaya bagi pertumbuhan iklim demokrasi itu sendiri, Pak."
Contoh yang tidak baik: "Tetapi hal itu kan dapat berbahaya bagi pertumbuhan iklim demokrasi itu sendiri, Pak."
4.
Hindari menanyakan
sesuatu yang bersifat umum, dan biasakanlah menanyakan hal-hal yang khusus. Hal
ini akan sangat membantu untuk memfokuskan jawaban nara sumber.
5.
Ungkapkanlah
pertanyaan dengan kalimat yang sesingkat mungkin dan to the point. Selain untuk
menghemat waktu, hal ini juga bertujuan agar nara sumber tidak kebingungan
mencerna ucapan si pewawancara.
6.
Hindari pengajuan dua
pertanyaan dalam satu kali bertanya. Hal ini dapat merugikan kita sendiri,
karena nara sumber biasanya cenderung untuk menjawab hanya pertanyaan terakhir
yang didengarnya.
7.
Pewawancara hendaknya
pintar menyesuaikan diri terhadap berbagai karakter narasumber. Untuk nara
sumber yang pendiam, pewawancara hendaknya dapat melontarkan ungkapan-ungkapan
pemancing yang membuat si nara sumber "buka mulut". Sedangkan untuk
nara sumber yang doyan ngomong, pewawancara hendaknya bisa mengarahkan
pembicaraan agar nara sumber hanya bicara mengenai hal-hal yang berhubungan
dengan materi wawancara.
8.
Pewawancara juga
hendaknya bisa menjalin hubungan personal dengan nara sumber, dengan cara
memanfaatkan waktu luang yang tersedia sebelum dan sesudah wawancara. Kedua
belah pihak dapat ngobrol mengenai hal-hal yang bersifat pribadi, atau hal- hal
lain yang berguna untuk mengakrabkan diri. Ini akan sangat membantu proses wawancara
itu sendiri, dan juga untuk hubungan baik dengan nara sumber di waktu-waktu
yang akan datang.
9.
Tips: Jika kita
mewawancarai seorang tokoh yang memiliki lawan ataupun musuh tertentu,
bersikaplah seolah-olah kita memihaknya, walaupun sebenarnya tidak demikian.
Seperti kata pepatah, "Jangan bicara tentang kucing di depan seorang
pecinta anjing".
10.
Bagi seorang reporter pemula,
kendala terbesar dalam proses wawancara biasanya bukan wawancaranya itu sendiri,
melainkan proses untuk menemui nara sumber. Agar kita dapat menemui nara sumber
tertentu dengan sukses, diperlukan perjuangan dan kiat-kiat yang kreatif dan
tanpa menyerah. Salah satu caranya
adalah rajin bertanya kepada orang-orang yang dekat dengan nara sumber.
Koreklah informasi sebanyak mungkin mengenai nara sumber tersebut, misalnya
nomor teleponnya, alamat villanya, jam berapa saja dia ada di rumah dan di
kantor, di mana dia bermain golf, dan sebagainya.
Wawancara adalah
tanya jawab antara seorang wartawan dengan narasumber untuk mendapatkan data
tentang sebuah fenomena (Itule dan Anderson 1987:184). Dalam hal ini, yang
perlu diperhatikan adalah:
a. Posisi
narasumber dalam wawancara
Posisi
narasumber dalam sebuah wawancara adalah ibarat posisi pembeli dalam sebuah
transaksi dagang, yaitu sebagai raja. Semua
keinginan narasumber harus dipenuhi oleh wartawan. Karena itu, sebelum
melakukan wawancara, wartawan harus menanyakan keinginan narasumber. Sebelum
itu, wartawan harus memperkenalkan secara langsung jati dirinya dan untuk siapa
ia bekerja kepada narasumber (ada
dalam kode etik).
Tahap-tahap ini,
menurut prinsip etika jurnalistik yang umum, harus ditempuh oleh setiap
wartawan sebelum melakukan wawancara dengan narasumber, terlepas dari narasumber
mengetahui cara kerja jurnalisme atau tidak.
Terdapat
beberapa hal mendasar yang perlu ditanyakan kepada narasumber, misalnya:
• Apakah
narasumber tidak keberatan bila kalimatnya dikutip secara langsung?
• Apakah
narasumber tidak berniat namanya dirahasiakan dalam sebagian hasil wawancara?
• Apakah
narasumber memiliki keinginan lain yang berkaitan dengan hasil wawancara?
Bila wartawan
sudah mengetahui jawaban ketiga pertanyaan ini ditambah dengan keinginan
narasumber lain, maka terpulang kepada wartawan bersangkutan untuk segera
memenuhinya atau bernegosiasi terlebih dahulu.
Bernegosiasi
dengan narasumber bukanlah haram. Wartawan boleh bernegosiasi
asal tidak berlangsung di bawah tekanan pihak tertentu (ada dugaan wartawan yang
handal sering melakukan negosiasi dengan narasumber). Kesepakatan yang dicapai
berdasarkan negosiasi, biasanya, lebih memuaskan kedua belah pihak.
Terlepas dari
cara pencapaian kesepakatan, kesepakatan ini perlu dicapai sebelum melakukan
wawancara (tidak ada salahnya wartawan juga merekam kesepakatan yang sudah
dicapai. Rekaman ini bisa dijadikan bukti bila kelak ada pihak yang protes
terhadap keberadaan wawancara tersebut). Berdasarkan kesepakatan inilah
seharusnya wawancara berlangsung.
Setelah
wawancara selesai, wartawan perlu menanyakan kembali kepada narasumber, apakah
narasumber masih setuju dengan kesepakatan yang sudah dibuat? Wartawan juga
perlu meyakinkan narasumber bahwa tidak akan terjadi penyesalan di kemudian
hari atas segala akibat kesepakatan yang sudah dibuat.
Dalam pandangan
sebagian kecil wartawan, pelaksanaan tahap-tahap wawancara tersebut di atas
menghambat kelancaran kerja mereka. Karena itu, mereka enggan melakukannya.
Tetapi, bagi mereka yang pernah “ketanggor”, pelaksanaan tahap-tahap itu menjadi satu keharusan.
b. Posisi
wartawan dalam wawancara
Sebagian
individu akan senang diwawancarai wartawan. Individu-individu model begini akan
selalu bersikap manis kepada wartawan. Tidak heran bila wartawan berada "di atas angin" ketika
berhadapan dengan mereka.
Lalu, dimana
posisi wartawan yang sebenarnya? Kedudukan wartawan adalah penjaga kepentingan
umum. Para wartawan berhak mengorek informasi yang berkaitan dengan kepentingan
umum dari narasumber.
Mereka bebas
menanyakan apa saja kepada narasumber untuk menjaga kepentingan umum. Posisi
inilah yang menyebabkan wartawan/media mendapat tempat di hati khalayak.
Kendati begitu, para wartawan, seperti dinyatakan oleh Jeffrey Olen, harus
menghormati keberadaan narasumber.
Wartawan harus mengakui bahwa narasumber adalah
individu yang bisa berpikir, memiliki alasan untuk berbuat dan mempunyai
keinginan-keinginan (Olen 1988:59).
Akibatnya, para
wartawan harus memperlakukan narasumber sebagai individu yang memiliki otonomi
dan bebas mengekspresikan segala keinginannya. Kalau pada satu saat narasumber
keberatan hasil wawancaraya disiarkan, maka wartawan harus menghormati
keinginan ini dan tidak menyiarkannya.
Menurut para
ahli, terdapat 7 (tujuh) jenis wawancara,
yaitu:
1. man in the street interview,
2. casual interview ,
3. personal interview,
4. news peg interview,
5. telephone interview,
6. question interview
7. dan group interview (Itule & Anderson 1987:halaman 207-213).
Operasionalisasinya
begini:
Man in the street interview: Wawancara
yang dilakukan untuk mengumpulkan pendapat beberapa orang awam mengenai sebuah
peristiwa, bisa menyangkut satu keadaan dan bisa pula tentang sebuah
kebijaksanaan baru. Biasanya wawancara ini diperlukan setelah terjadinya sebuah
peristiwa yang sangat penting.
Casual interview:
Sebuah wawancara mendadak. Dalam hal ini
seorang wartawan minta kesediaan seorang narasumber untuk diwawancarai. Si
wartawan berbuat begitu karena ia bertemu dengan narasumber yang dianggapnya
punya informasi yang perlu dilaporkan kepada khalayak.
Personal interview:
Merupakan wawancara untuk mengenal pribadi
seseorang yang memiliki nilai berita lebih dalam lagi. Hasilnya, biasanya
berupa profil tentang orang bersangkutan.
News peg interview :
Wawancara yang berkaitan dengan sebuah
laporan tentang sebuah peristiwa yang sudah direncanakan. Wawancara ini sering
juga disebut information interview.
Telephone interview:
Wawancara
yang dilakukan lewat telepon. Ini biasanya dilakukan wartawan kepada narasumber
yang sudah dikenalnya dengan baik dan untuk melengkapi sebuah berita yang
sedang ditulis. Dengan perkataan lain, seorang wartawan memilih jenis wawancara
memilih jenis wawancara ini karena ia dalam keadaan terdesak.
Question interview:
Wawancara tertulis. Biasanya dilakukan
seorang wartawan yang sudah mengalami jalan buntu. Setelah ditelepon, didatangi
ke rumah dan ke kantor, si wartawan tidak bisa bertemu dengan anrasumber, maka
ia memilih wawancara jenis ini. Keuntungan wawancara
ini adalah: Informasi yang diperoleh lebih jelas dan mudah dimengerti.
Kelemahannya adalah: wartawan tidak bisa mengamati sikap-sikap pribadi
narasumber ketika manjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan.
Group interview:
Wawancara
yang dilakukan terhadap beberapa orang sekaligus untuk membahas satu persoalan
atau implikasi satu kebijaksanaan pemerintah. Setiap orang memiliki kesempatan
yang sama untuk berbicara. Contoh
pelaksanaannya seperti beberapa talk-show di televisi, misal acara
"Jakarta Lawyer Club" di TV-one.
Semua jenis
wawancara tersebut di atas akan terlaksana dengan baik bila dipenuhi hal-hal teknis berikut:
• Menggunakan
daftar pertanyaan yang tersusun baik, yang sudah disiapkan lebih dulu;
• Memulai
wawancara dengan pertanyaan-pertanyaan yang ringan;
• Mengajukan
pertanyaan secara langsung dan tepat;
• Tidak malu
bertanya bila ada jawaban yang tidak dimengerti; dan
• Mengajukan
pertanyaan tambahan berdasarkan perkembangan wawancara.
Wawancara pada Media Elektronik
Wawancara untuk media cetak berbeda dengan wawancara
untuk media elektronik. Wawancara untuk media elektronik biasanya dikemas
semenarik mungkin (wartawan harus mendapat rekaman audio, atau video). Sebelum
wawancara berlangsung, seringkali dilakukan “briefing” antara pewawancara dan
nara sumber, yang bertujuan untuk menjaga kelancaran wawancara. Hal ini
dilakukan karena wawancara untuk media elektronik merupa kan "produk"
tersendiri yang "dijual" kepada pemirsa/pendengar.
Sedangkan dalam media cetak, yang terpenting bagi pembaca adalah tulisan yang dibuat berdasarkan hasil reportase, sehingga proses wawancara tidaklah penting bagi mereka. Karena itu, wawancara untuk media cetak dapat berlangsung tanpa kemasan yang menarik ataupun briefing antara wartawan dengan nara sumber. Satu-satunya persiapan yang perlu dilakukan adalah persiapan wartawan itu sendiri, yang mencakup bahan wawancara dan pengetahuan umum mengenai materi wawancara. Sedangkan proses wawancaranya dapat berlangsung dalam berbagai situasi dan tempat. Bisa di kantor, di restoran sambil makan siang, lewat telepon, sambil berjalan menuju halaman parkir, sambil ngobrol, dan sebagainya.
Sedangkan dalam media cetak, yang terpenting bagi pembaca adalah tulisan yang dibuat berdasarkan hasil reportase, sehingga proses wawancara tidaklah penting bagi mereka. Karena itu, wawancara untuk media cetak dapat berlangsung tanpa kemasan yang menarik ataupun briefing antara wartawan dengan nara sumber. Satu-satunya persiapan yang perlu dilakukan adalah persiapan wartawan itu sendiri, yang mencakup bahan wawancara dan pengetahuan umum mengenai materi wawancara. Sedangkan proses wawancaranya dapat berlangsung dalam berbagai situasi dan tempat. Bisa di kantor, di restoran sambil makan siang, lewat telepon, sambil berjalan menuju halaman parkir, sambil ngobrol, dan sebagainya.
3. Konferensi Pers
Pernyataan yang
disampaikan seseorang yang mewakili sebuah lembaga mengenai kegiatannya kepada
para wartawan. Biasanya menyangkut citra lembaga, peristiwa yang sangat penting
dan bersifat insidental. Tetapi, tidak jarang bersifat periodik, seperti
konferensi pers Menteri Luar Negeri, yang berlangsung seminggu sekali.
Pada setiap
konferensi pers, setiap wartawan memiliki hak yang sama untuk mengajukan
pertanyaan kepada orang yang memberikan konferensi pers.
Umumnya, lalu
lintas informasi dalam konferensi pers dilakukan lewat dialog langsung. Tetapi,
ada juga konferensi pers yang menggunakan informasi tertulis yang dibagikan
kepada para wartawan. Untuk melengkapi informasi tersebut, para wartawan diberi
kesempatan untuk bertanya.
4. Press Release
Bisa diartikan
sebagai siaran pers yang dikeluarkan oleh satu lembaga, satu organisasi atau
seorang individu secara tertulis untuk para wartawan. Ia mewakili kepentingan lembaga,
organisasi atau individu. Itulah sebabnya media massa cetak yang besar, seperti
Kompas tidak mau memuat siaran pers seperti ini. Memang tidak ada keharusan
bagi wartawan untuk memuat siaran pers ini.
Juga tidak ada
kesempatan bagi para wartawan untuk bertanya kepada pihak yang mengeluarkan
siaran pers tentang siaran pers.
Inilah yang
membedakannya dengan konferensi pers. Tegasnya, pada press release tidak ada
tanya jawab dengan wartawan dan narasumber. Sedangkan pada konferensi, ada.
5. Studi Dokumen
Mencari dan
mempelajari dokumen sering juga perlu dilakukan wartawan. Misalnya pada berita
terkait "pelanggaran sumpah jabatan" oleh oknum pejabat, wartawan
hendaknya dapat menunjuk poin "sumpah jabatan" di dalam dokumen
terkait, misalnya dokumen sk pelantikan. Contoh yang lain adalah pada berita
terkait proyek pembangunan, maka penting untuk mencari dokumen2 proyek, seperti
dokumen konsep proyek, surat-surat tender, surat perintah kerja dll....
Misalnya juga, dokumen-dokumen terkait berita persidangan di pengadilan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar