Rabu, 17 Januari 2018

Mengenal Foto Jurnalistik


Foto jurnalistik di sini adalah foto yang dimaksudkan sebagai karya jurnalistik, atau foto yang kemudian dimuat dalam media massa/jurnalistik. Jadi, foto jurnalistik  memperhatikan nilai-nilai jurnalistik (yaitu Signifikansi, kedekatan,  kebaruan-waktu, ketokohan, dll seperti yang pernah kita pelajari). Dalam hal ini lah foto jurnalisttik berbeda dengan foto dokumentasi/probadi dan juga dengan foto seni/art photografi.

Ciri-ciri foto jurnalis:
    1.Memiliki nilai berita atau menjadi berita itu sendiri.
    2.Melengkapi suatu berita/artikel.
    3.Dimuat dalam suatu media.

Membahasa foto jurnalistik, kita mengenal istilah foto berita/peristiwa, foto ilustrasi, foto ilustrasi aktif dan foto ilustrasi pasif, foto spot news, foto general news, foto feature, esay foto , foto headshot.

Foto berita/peristiwa, dapat berdiri sendiri walau hanya dengan sebuah caption ringkas, namun sangat deskriptif Sehingga mampu menginformasikan banyak pesan.  

Pesan dalam foto: Ikon, Simbol dan Indeks 

Agar fotonya dapat membawa banyak pesan ini, jurnalis fotografer berusaha memasukkan sebanyak mungkin simbol, ikon, indeks di dalam karya foto jurnalistiknya.  Misalnya, perhatikan foto dibawah ini:



Foto di halaman 1  Harian Jawapos edisi Minggu 3 Juni 2012 ini, tidak hanya berupa gambar sebuah bus yang terbakar hebat, tetapi pada pinggir foto dapat kita lihat gambar patung selamat datang (tugu pancoran) yang sudah menjadi ikon kota Jakarta, jadi tanpa membaca caption foto, orang yang melihat foto ini langsung tahu lokasi kejadian. Asap mengepul hitam itu,  juga merupakan indeks dahsyatnya peristiwa kebakaran.

Sebuah permisalan lain, ketika kita memotret peristiwa demontrasi, maka kita upayakan memasukkan dalam hasil foto kita berbagai simbol yang dibawa demontran (mengupayakan pembaca agar langsung tahu, tanpa perlu membaca caption foto, dari kelompok manakah demontran tersebut).

Hal lain dalam foto jurnalistik, kita harus sadar (dan mengupayakan) foto jurnalistik membawa (se-sarat mungkin) pesan berupa indeks. Ketika kita memotret peserta sidang paripurna DPR /MPR yang sedang terkantuk-kantuk  di kursinya, maka kita menyampaikan ekspresi mengantuk mereka yang merupakan indeks  dari banyak hal (salah satunya) sikap mereka sebagai wakil rakyat dalam mengemban tugasnya.

Foto jurnalistik menjadi kaya/sarat pesan, karena wartawannya  jeli mencermati ikon, simbol dan indeks, yang kemudian memasukkannya dalam karya fotonya.

Dalam dunia jurnalistik foto, kita juga mengenal foto ilustrasi. Baik foto ilustrasi aktif maupun foto ilustrasi pasif.  Foto ilustrasi aktif menjadi foto pendamping bagi tulisan, dengan thema atau peristiwa yang betul-betul terkait langsung dengan tulisan.  Sedangkan foto ilustrasi pasif, menjadi pelengkap  tulisan walaupun bukan merupakan foto peristiwa yang terkait langsung dengan isi tulisan, ia menjadi ilustrasi pasif mungkin sekadar pemanis, penghias halaman.

Selain itu, kita mengenal istilah Spot news: Yaitu pengambilan foto-foto secara insidential, artinya tanpa perencanaan. Misalnya foto bencana. Seorang wartawan harus siap mengambil foto sewaktu-waktu. Sebab banyak peristiwa yang terjadi begitu mendadak. Dalam hal ini, banyak juga karya foto yang dibuat dengan kamera saku, bahkan kamera HP, bisa punya nilai tinggi secara jurnalistik.

Foto Spot News dapat dibedakan foto general news: ini jenis foto yang diambil secara terencana, karena kejadiannya memang sudah terjadwal atau sudah diperkirakan. Wartawan foto bisa melakukan persiapan sebaik-baiknya. Misalnya, foto SU MPR, foto olahraga, dll.
Cobalah cari tahu arti istilah Foto Feature, Esai Foto, dan Foto Headshot!?


Etika Foto Jurnalistik

Coba perhatikan pula foto berikut ini, untuk menyadarkan kita bahwa dalam foto jurnalistik harus memperhatikan pula kaidah-kaidah etika, baik dalam mengambil foto, mengedit maupun menayangkannya, pelajari kode etik jurnalistik yang terkait foto:


Tidak ada komentar:

Posting Komentar